Kata Pengantar
Puji syukur
kehadirat ALLAH SWT , karena berkat rahmat dan hidayahnya kami dapat
menyelesaikan tugas makalah belajar dan pembelajaran tentang “Teori Belajar
Menurut Aliran Humanisme dan Landasan Filosofisnya” sesuai dengan waktu yang
telah diberikan.
Makalah ini kami buat untuk dalam rangka memenuhi salah satu nilai persyaratan
mata kuliah pengantar pendidikan. Dalam pembuatan makalah ini , banyak
hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam
pembuatan makalah ini tidak lain berkat bantuan dan dorongan dari orang tua ,
sehingga kendala - kendala yang dihadapi dapat teratasi. Oleh karena itu kami
mengucapkan terima kasih kepada :
- Dr. Warsiman, M.Pd. selaku dosen pembimbing mata
kuliah Teori Belajar Bahasa,yang telah
memberikan tugas, petunjuk, kepada kami sehingga kami dapat termotivasi
dan menyelesaikan makalah ini.
- Orang tua yang turut
membantu, memberikan doa kepada
kami, sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
- Kepada teman-teman dan semua pihak yang telah
ikut menyumbangkan fikiran dan dorongan selama penyusunan.
Semoga materi dalam karya
tulis ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan
pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami supaya tujuan yang
diharapkan dapat tercapai.
Surabaya, 12 Mei 2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia
pendidikan terdapat banyak teori tentang pembelajaran. Salah satu teori
pendidikan yang diterapkan adalah humanisme. Namun tentu saja masih menimbulkan
pertanyaan tentang “Apakah yang dimaksud dengan teori humanisme? “ dan berbagai pertanyaan lainpun akan bermunculan
mengenai teori ini.
Humanisme tidak memandang bangsa, agama,
daerah, suku, warna kulit dan sejenisnya. Ia memperlakukan dan berusaha
membantu siapa pun itu manusianya. Tidak memandang ia baik atau jahat, kawan
atau musuh. Humanisme
dipandang merupakan pendidikan dan pembelajaran di sekolah selama ini
dinilai kurang demokratis. Kurangnya ruang bagi peserta didik untuk
berimajinasi dan berkreasi menunjukkan eksistensinya dengan perspektif mereka
sendiri menunjukkan hal itu. Padahal, kreativitas dan kemampuan berpikir kritis
merupakan kecakapan yang menjadi modal anak agar mampu menghadapi tantangan dan
lebih kompetitif .
Pendidikan sering kali kita harapkan sebagai
“pabrik intelektual” yang dituntut agar mampu menciptakan pelaku-pelaku pembangunan yang tangguh dan handal di masa mendatang. Akibatnya, pendidikan tidak
lagi diarahkan kepada hal-hal penanaman potensi kemanusiaan lainnya. Terutama
yang bermuara pada sisi emosial peserta didik. Padahal, inti dari sebuah
pendidikan ialah agar menjadikan manusia-manusia yang cerdas, kreatif dan
humanis. Untuk itu, harus dicarikan sebuah konsep pendidikan yang berangkat dan
beroerientasi pada potensi dasar manusia secara lebih sistematik dan realistik.
Menciptakan konsep pendidikan yang disebut
dehumanisasi di negara kita tidaklah mudah membalikkan telapak tangan. Selain
pendidikan kita yang tidak pernah jelas dan terarah sistem dan metodenya,
apalagi jika kita melihat out put pendidikan itu sendiri yang faktanya sangat
mengkhawatirkan. Belum lagi jika meneropong lebih jauh atas kasus-kasus tindak
kriminal yang dilakukan oleh peserta didik. Tawuran antar pelajar, terjebak
dalam lingkaran narkoba, miras dan berbagai tindakan amoral lainnya menjadi hal
yang lumrah terjadi dalam keseharian kita..
Banyaknya persoalan yang menjadi beban pengelolaan
pendidikan dan pengajaran di neggara kita. Mulai dari beban ajar yang terlalu
banyak dan padat, sampai pada profesionalitas guru yang masih belum memadai dan
penghargaan finansial terhadap para pendidik yang masih sangat rendah. Dalam
bahasan ini masalah yang terkait erat adalah standar keberhasilan belajar yang
masih menekankan bidang intelektual dan sekaligus sentralisasi standar mutu
contohnya UNAS: Ujian Nasional, yang mengakibatkan masyarakat terjerumus pada
keyakinan bahwa hasil UNAS adalah satu-satunya ukuran keberhasilan peserta
didik dan juga sekolah sebagai lembaga pendidikan.
Pendidikan dan
pembelajaran hendaknya diperbaiki sehingga memberi keseimbangan pada aspek
individualitas ke aspek sosialitas atau kehidupan kebersamaan sebagai masyarakat
manusia. Pendidikan dan pembelajaran hendaknya juga dikembalikan kepada
aspek-aspek kemanusiaan yang perlu ditumbuhkembangkan pada diri peserta didik.
Landasan filosofi pendidikan yang bertujuan mengembangkan dan mengharai aspek
manusia adalah landasan dan teori belajar humanistime.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa masalah
sebagai berikut:
- Apakah yang dimaksud dengan
teori belajar humanisme?
- Bagaimanakah pemahaman
belajar menurut teori belajar humanisme?
- Bagaimana implikasi teori
belajar humanisme dalam proses belajar mengajar?
- Bagaimanakah Pemahaman orang lain terhadap
humanisme?
C.
Tujuan Penulisan
Ø Untuk
mengetahui pengertian teori belajar humanisme terhadap pendidikan.
Ø Untuk
mengetahui pandangan teori belajar humanisme terhadap pembelajaran.
Ø Untuk
mengetahui implikasi teori belajar humanisme dalam proses belajar mengajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Belajar Humanisme
Dalam teori
belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia
itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya isi dari proses
belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan
dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain,
teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal
dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam
dunia keseharian. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk
“memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat
tercapai.
Menurut
kami, Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang
mengedepankan bagaimana manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi
dirinya. Manusia bertanggung jawab terhadap pilihan hidup mereka sendiri,
sehingga mampu berbuat segala hal positif untuk membangun dirinya, hal ini
karena pada dasarnya manusia mempunyai potensi untuk menjadi lebih baik asalkan
mau mengaktulisasikan diri.
Dalam teori
humanistime, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar
berhasil jika si pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.Teori
ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari
sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidikan ialah membantu siswa
untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk
mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu mewujudkan
potensi yang ada pada dirinya.
Teori Humanisme dilihat dari adanya dua bagian pada
proses belajar, yaitu :
1. Proses pemerolehan informasi
2. Personalisasi informasi ini pada individu
Tokoh penting dalam teori belajar humanistime
secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl
Rogers. Salah satu tokoh penting dari Teori Humanistik ini ialah “ Arthur W.
Combs “ ( 1912-1999 ).
Arthur bersama dengan Donald Snygg ( 1904-1967 )
mencurahkan perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti ) adalah
konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi
individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai oleh muridnya.
Misal, anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan berarti anak itu bodoh
tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan mungkin mereka tidak ada alasan
penting mereka agar harus mempelajari. Perilaku ini tidak lain karena dari
ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan
kepuasan baginya.
Dari uraian
tersebut menurut kami, seorang guru harus bisa memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami
dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru
harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku
internal membedakan seseorang dari yang lain. Banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar
apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal
arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu, dengan kata lain individulah
yang memberikan arti kepada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah
bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi
pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya. Combs memberikan
lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran ( besar dan
kecil) yang bertitik pusat satu. Hal-hal yang
mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses
pembelajaran huanisme adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan
dan pembelajaran, yaitu;
- Menjadi manusia berarti
memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar
tentang hal-hal yang tidak penting artinya.
- Siswa akan mempelajari
hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran
berarti mengorganisasian bahan dan ide baru sebagai bahan yang bermakna
bagi siswa. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan
bahan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
- Belajar yang bermakna dalam
masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Dari bukunya Freedom To Learn, Rogers
menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya
ialah;
- Manusia
itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
- Belajar
yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid
mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
- Belajar
yang menyangkut perubahan didalam persepsi mengenai dirinya sendiri
dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolakanya.
- Tugas-tugas
belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan
diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar semain kecil.
- Apabila
ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan
berbagai cara yang berbeda-beda maka terjadilah proses belajar. Belajar
bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
- Belajar
diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan
bertanggungjawab dalam proses belajar itu.
- Belajar
inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan
maupun intelek merupaan cara yang dapat memberi hasil yang mendalam dan lestari.
- Kepercayaan
terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreatifitas, lebih mudah dicapai
terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya
sendiri dan penilaian dari orang lain merupaan cara kedua yang penting.
- Belajar
yang paling berguna secara sosial dalam dunia modern ini adalah belajar
mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap
pengalaman dan penyatuan kedalam diri sendiri setelah mengenai proses
perubahan itu.
Abraham Maslow, Mazhab ketiga
dalam perkembangan psikologi ini, lahir sebagai reaksi atas teori-teori
Behaviorisme (kental dengan sifat behavioristik, asosianistik dan
eksperimental) dan Psikoanalisis (depth psychology dengan sifat
klinis-pesimistik). Suatu telaah terhadap sisi-sisi yang lebih bermanfaat,
bermakna dan dapat diterapkan bagi kemanusiaan, yang kemudian menjadi titik
tolak bagi pengembangannya. Menurut
Teori Maslow, pentingnya kesadaran akan perbedaan individu, dengan memperhatikan
aspek-aspek kemanusiaan. Menggali dan menemukan sisi-sisi kemanusiaan, pada
taraf tertentu akan sampai pada penemuan diri. Proses belajar yang ada pada
diri manusia adalah proses untuk sampai pada aktualisasi diri (learning how
to be). Belajar adalah mengerti dan memahami siapa diri kita,
bagaimana menjadi diri sendiri, apa potensi yang kita miliki, gaya apa yang
anda miliki, apa langkah-langkah yang anda ambil, apa yang dirasakan,
nilai-nilai apa yang kita miliki dan yakini, kearah mana perkembangan kita akan
menuju. Belajar di satu sisi adalah memahami bagaimana anda berbeda
dengan yang lain (individual differences), dan di sisi lain adalah
memahami bagaimana anda menjadi manusia sama seperti manusia yang lain
(persamaan dalam specieshood or humanness).
Berikut
adalah kebutuhan manusia menurut teori Maslow (Piramida Maslow)
Menurut
Habermas, belajar baru akan terjadi jika ada interaksi antara individu dengan
lingkungannya. Lingkungan belajar yang dimaksud adalah lingkungan alam maupun
lingkungan sosial, sebab antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Menurutnya ada
3 tipe belajar :
1.
Belajar Teknis (technical learning) Ã bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan alamnya secara
benar. Pengetahuan dan keterampilan apa yang dibutuhkan dan perlu dipelajari
agar mereka dapat menguasai dan mengelola lingkungan sekitarnya dengan baik.
2.
Belajar Praktis (practical learning) Ã bagaimana seseorang dapat
berinterkasi dengan lingkungan sosialnya, yaitu dengan orang-orang
disekelilingnya dengan baik. Kegiatan belajar lebih mengutamakan
terjadinya interaksi yang harmonis antara sesama manusia. Pemahaman dan
keterampilan seseorang dalam mengelola lingkungan alamnya tidak dapat
dipisahkan dengan kepentingan manusia pada umumnya. Interaksi yang benar antara
individu dengan lingkungan alamnya hanya akan tampak dari kaitan atau
relevansinya dengan kepentingan manusia.
3.
Belajar Emansipatoris (emancipatory learning) Ã menekankan upaya agar seseorang mencapai suatu
pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi
budaya dalam lingkungan sosialnya. Dibutuhkan pengetahuan
dan keterampilan serta sikap yang benar untuk mendukung terjadinya transformasi
kultural tersebut. Pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi kultural
inilah yang oleh Habermas dianggap sebagai tahap belajar yang paling tinggi,
sebab transformasi kultural adalah tujuan pendidikan yang paling tinggi.
B.
Belajar Menurut Teori Humanisme
Teori belajar humanisme ini memandang bahwa
perilaku manusia ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh factor internal dirinya
dan bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan. Menurut teori belajar
humanisme, aktualisasi diri merupakan puncak perkembangan individu. Ia mampu
mengembangkan potensinya dan merasa dirinya utuh, bermakna dan berfungsi,
kebermaknaan perwujudan dirinya itu bahkan bukan saja dirasakan oleh dirinya
sendiri, tetapi juga oleh lingkungan sekitarnya. Teori belajar humanisme ini
yakin bahwa motivasi belajar harus datang dari dalam individu. Bahkan aliran
ini mengabaikan factor intelektual dan emosional. Menurutnya, kedua factor
tersebut tidak terlibat di dalam proses belajar.
Menurut teori ini, proses belajar yang bermakna
adalah belajar yang melibatkan pengalaman langsung, berpikir dan merasakan,
atas kehendak sendiri dan melibatkan seluruh pribadi peserta didik. Belajar
yang bermakna tidak lain adalah belajar yang dapat memenuhi kebutuhan nyata individu. menurut teori
humanisme, salah satu karasteristik yang harus ada pada guru / pendidik adalah
memiliki kemampuan memotivasi belajar peserta didiknya. Selain itu guru memiliki sikap
empati, terbuka, keaslian, kekonkritan,dan kehangatan. Sikap empati merujuk
kepada sikap guru yang mampu memposisiskan
dirinya pada kerangka berpikir peserta didik sehingga guru dapat merasakan apa
yang peserta didik rasakan dan alami. Keterbukaan merujuk pada kemampuan guru
untuk membuka diri, sikap dikritik, diberi masukan, siap dinilai, dan diberi
ujian. Keaslian merujuk kepada pemampilan apa adanya dan tidak dibuat-buat.
Kekonkretan merujuk pada kejelasan dalam menyatakan sesuatu.memberi tanggung
jawab sesuai dengan kemampuan peserta didik dan realistis. Kehangatan
merujuk pada jalanan komunikasi yang secara psikologis terasa nyaman dan aman
bagi peserta didik disertai ketulusan dalam memberikan pelayanan pendidikan.
Prof. Dr. Armai Arief, MA.(Guru Besar Universitas
Islam Negeri (UIN) Jakarta) menyatakan bahwa hampir tidak kita sadari bersama
saat ini, trend pendidikan yang berkembang pada beberapa dekade terakhir ini
adalah belajar untuk belajar. Bukan lagi belajar untuk dapat bertahan hidup
dalam kondisi yang jauh makin komplek ke depan. Tak heran proses pembelajaran
yang ada di sekolah dapat dinilai kurang demokratis-humanistik. Kurang adanya
ruang bagi peserta didik untuk berimajinasi dan berkreasi guna menunjukkan
eksistensinya sendiri masing-masing. Padahal, kreativitas dan kemampuan
berpikir kritis merupakan kecakapan yang menjadi modal awal anak agar mampu
menghadapi tantangan masa depan yang jauh lebih kompetitif.
Suatu model
pendidikan terbuka mencakup konsep pengajar guru yang fasilitas dan kemampuan
para guru untuk menciptakan kondisi yang mendukung yaitu empati, penghargaan
dan umpan balik positif. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah;
1. Merespon perasaan siswa.
2. Menggunakan ide-ide siswa untuk
melaksanakan interaksi yang sudah dirancang.
3. Berdialog dan berdisusi dengan
siswa.
4. Menghargai siswa.
5. Kesesuaian
antara perilaku dan perbuatan.
6. Menyesuaian
isi kerangka berfiir siswa (penjelasan untuk memantapkan kebutuhan segera dari
siswa).
C. Implikasi
Belajar Humanistik
Guru sebagai fasilitator Psikologi, paham
humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator, berikut ini adalah
berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas si
fasilitator. Ini merupakan ikthisar yang sangat singkat dari beberapa petunjuk.
- Fasilitator sebaiknya
memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman
kelas.
- Fasilitator membantu untuk
memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan didalam kelas, dan
juga tujuan-tujuan kelompok ang bersifat umum.
- Dia mempercayai adanya
keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang
bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong yang tersembunyi didalam
belajar ang bermakna tadi.
- Dia mencoba mengatur dan
menyediakan sumber-sumber untuk belajar ang paling luas dan mudah
dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
- Dia menempatkan dirinya
sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh
kelompok.
- Didalam menaggapi
ungkapan-ungkapan dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang
bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menaggapi
dengan cara ang sesuai, baik bagi individu maupun kelompok.
- Bilamana cuaca penerima
kelas telah mantap, fasilitator berangsur-angsur dapat berperan sebagai
seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan
turut menyatakan pandangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang
lain.
- Dia mengambil prakarsa untuk
ikut serta dalam kelompok, perasaan dan juga pikirannya dengan tidak
menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara
pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa.
- Dia harus tetap waspada
terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan
kuat selama belajar.
- Didalam berperan sebagai
seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk mengenali dan menerima
keterbatasanna sendiri
Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator.
Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik,
maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana
belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri (self-directed learning). Ia
juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi
diri. Galileo menegaskan bahwa “sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan
apapun, kita hanya dapat membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan
dirinya”. Setiap pribadi manusia memiliki ldquo, (mutiara talenta yang
tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu
peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin.
Mendidik yang efektif pada dasarnya merupakan
kemampun seseorang yang menghadirkan diri sedemikian sehingga pendidik memiliki
relasi bermakna pendidikan dengan para peserta didik sehingga mereka mampu
menumbuhkembangkan dirinya menjadi pribadi dewasa dan matang. Pendidikan yang efektif
adalah yang berpusat pada siswa atau pendidikan bagi siswa. Dasar pendidikannya
adalah apa yang menjadi & ldquo; dunia & idquo;, minat, dan
kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendidik membantu peserta didik untuk
menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang
mereka miliki (the learners-centered teaching). Ciri utama pendidikan
yang berpusat pada siswa adalah bahwa pendidik menghormati, menghargai dan
menerima siswa sebagaimana adanya. Komunikasi dan relasi yang efektif sangat
diperlukan dalam model pendidikan yang berpusat pada siswa, sebab hanya dalam
suasana relasi dan komunikasi yang efektif, peserta didik akan dapat
mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya dan kemudian mem - ldquo; fungsi
& idquo; -kan dirinya di dalam masyarakat secara optimal.
Tujuan sejati dari pendidikan adalah pertumbuhan
dan perkembangan diri peserta didik secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi
dewasa yang matang dan mapan, mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik
dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai maka diperlukan
sistem pembelajaran dan pendidikan yang humanis serta mengembangkan cara
berpikir aktif-positif dan keterampilan yang memadai (income generating
skills). Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat aktif-positif dan
berdasarkan pada minat dan kebutuhan siswa sangat penting untuk memperoleh
kemajuan baik dalam bidang intelektual, emosi/perasaan (EQ), afeksi maupun
keterampilan yang berguna untuk hidup praktis.
Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah
memanusiakan manusia muda (N. Driyarkara). Pendidikan hendaknya membantu
peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih
bermanusiawi (semakin & ldquo; penuh & idquo; sebagai manusia), berguna
dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat
proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal
dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak
atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, namun
tetap humanis.
Ki Hajar Dewantara, pendidik asli Indonesia,
melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologiknya. Menurutnya manusia
memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya
menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan semua daya
secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja
akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan
bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan
menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai
sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang
memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan
manusia kurang humanis atau manusiawi. Dari titik pandang sosio-anthropologis,
kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia
itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara
yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan
mengembangkan kebudayaannya. Persoalannya budaya dalam masyarakat itu
berbeda-beda.
Saat ini model pendidikan yang dibutuhkan adalah
model pendidikan yang demokratis, partisipatif, dan humanis: adanya suasana
saling menghargai, adanya kebebasan berpendapat/berbicara, kebebasan
mengungkapkan gagasan, adanya keterlibatan peserta didik dalam berbagai
aktivitas di sekolah, dan kemampuan hidup bersama dengan teman yang mempunyai
pandangan berbeda. Oleh karena itu, paradigma pembelajaran dan pendidikan
seyogianya merupakan sebuah paradigma pembelajaran yang sedari tingkat
filosofis, strategi, pendekatan proses dan teknologi pembelajarannya menuju ke
arah pembebasan anak didik dengan segala eksistensinya. Dengan demikian, baru
anak didik bisa bebas mewujudkan keseluruhan potensi dirinya.
Sistem pendidikan hendaknya berpusat pada peserta
didik, artinya kurikulum, administrasi, kegiatan ekstrakurikuler maupun
kokurikulernya, sistem pengelolaannya harus dirumuskan dan dilaksanakan demi
kepentingan peserta didik, bukan demi kepentingan guru, sekolah atau lembaga
lain. Pendidikan yang hanya memusatkan pada kepentingan kebutuhan kerja secara
sempit harus dikembalikan kepada kepentingan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian
peserta didik secara utuh. Seperti misalnya kemampuan bernalar, berpikir
aktif-positif, kreatif, menemukan alternatif dan prosesnya menjadi pribadi yang
utuh (process of becoming). Peserta didik hendaknya benar-benar dikembalikan
sebagai subyek (dan juga obyek) pendidikan dan bukannya obyek semata-mata.
Pembudayaan nilai kreativitas, otonomi/kemandirian,
dan relevansi pendidikan merupakan kunci rekulturasi. UNESCO merekomendasikan
pembaharuan pendidikan dan pembelajaran yang amat menunjang proses ini, pada
lima konsep pokok paradigma pembelajaran dan pendidikan, yaitu:
- Learning to know: guru
hendaknya mampu menjadi fasilitator bagi peserta didiknya. Information
supplier (ceramah, putar pita kaset) sudah tidak jamannya lagi. Peserta
didik dimotivasi sehingga timbul kebutuhan dari dirinya sendiri untuk
memperoleh informasi, keterampilan hidup (income generating skills), dan
sikap tertentu yang ingin dikuasainya.
- Learning to do: peserta
didik dilatih untuk secara sadar mampu melakukan suatu perbuatan atau
tindakan produktif dalam ranah pengetahuan, perasaan dan penghendakan.
Peserta didik dilatih untuk aktif-positif daripada aktif-negatif.
Pengajaran yang hanya menekankan aspek intelektual saja sudah usang.
- Learning to live together: ini adalah tanggapan
nyata terhadap arus deras spesialisme dan individualisme. Nilai baru
seperti kompetisi, efisiensi, keefektifan, kecepatan, telah diterapkan
secara keliru dalam dunia pendidikan. Sebagai misal, sebenarnya kompetisi
hanya akan bersifat adil kalau berada dalam paying kooperatif dan
didasarkan pada kesamaan kemampuan, kesempatan, lingkup, sarana, tanpa itu
semua hanyalah merupakan kompetisi yang akan mengakibatkan yang “kalah”
akan selalu “kalah”. Sekolah sebagai suatu masyarakat mini seharusnya
mengajarkan “cooperatif learning”, kerjasama dan bersama-sama, dan
bukannya pertandingan intelektualistik semata-mata, yang hanya akan
menjadikan manusia pandai tetapi termakan oleh kepandaiannya sendiri dan
juga membodohi orang lain. Sekolah menjadi suatu paguyuban penuh
kekeluargaan dan mengembangkan daya cipta, rasa dan karsa, atau
aspek-aspek kemanusiaan manusia.
- Learning to be: dihayati dan dikembangkan untuk
memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Setiap peserta didik memiliki
harga diri berdasarkan diri yang senyatanya. Peserta didik dikondisikan
dalam suasana yang dipercaya, dihargai, dan dihormati sebagai pribadi yang
unik, merdeka, berkemampuan, adanya kebebasan untuk mengekspresikan diri,
sehingga terus menerus dapat menemukan jati dirinya. Subyek didik
diberikan suasana dan sistem yang kondusif untuk menjadi dirinya sendiri.
- Learning throughout life yaitu bahwa pembelajaran
tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Pembelajaran dan pendidikan
berlangsung seumur hidup. Pelaku pendidikan formal hendaknya berorientasi
pada proses dan bukan pada hasil atau produk semata.
D. Humanisme
Menurut pandangan Psikologi
Humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul tahun 1950an
sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis. Aliran ini secara eksplisit
memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks
manusia dalam pengembangan teori psikologis. Permasalah ini dirangkum dalam
lima postulat Psikologi Humanistik dari James Bugental (1964), sebagai berikut:
1.
Manusia
tidak bisa direduksi menjadi komponen-komponen.
2.
Manusia
memiliki konteks yang unik di dalam dirinya.
3.
Kesadaran
manusia menyertakan kesadaran akan diri dalam konteks orang lain.
4.
Manusia
mempunyai pilihan-pilihan dan tanggung jawab.
5.
Manusia
bersifat intensional, mereka mencari makna, nilai, dan memiliki kreativitas.
.Abstrak
Psikologi humanistik atau disebut juga dengan nama psikologi kemanusiaan adalah
suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkah laku manusia,
yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia. Bagi
sejumlah ahli psikologi humanistik ia adalah alternatif, sedangkan bagi
sejumlah ahli psikologi humanistik yang lainnya merupakan pelengkap bagi
penekanan tradisional behaviorisme dan psikoanalis. Psikologi humanistik juga
memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan
pendidikan humanistik (humanistic)
keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial,mental,
dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan
humanistic. Aliran Psikologi Humanistik selalu mendorong peningkatan kualitas
diri manusia melalui penghargaannya terhadap potensi-potensi positif yang ada
pada setiap insan. Seiring dengan perubahan dan tuntutan zaman, proses pendidikan
pun senantiasa berubah.
E.
Pendekatan Bahasa Dalam Pengajaran
Pengajaran bahasa sebagai bahasa asing
mengalami perkembangan dari masa ke masa, terutama di negara yang kondisi
sosial ekonominya sudah mantap seperti
di negara – negara Eropa dan di Amerika Serikat dimana penelitian telah
merupakan tradisi kehidupan ilmiah dan telah menghasilkan pemikiran – pemikiran
di bidang pengajaran Bahasa. Kemajuan yang begitu pesat di bidang komunikasi
menyebabkan perkembangan bahasa yang terjadi di negara – negara tersebut
berpengaruh juga dibelahan bumi lainnya, yaitu negara – negara berkembang
seperti indonesia, biarpun dalam kenyataannya kita selalu ketinggalan.
Pengajaran
sastra tidak dapat dipisahkan dari pengajaran bahasa. Namu, pengajaran sastra
tidaklah dapat disamakan dengan pengajaran bahasa. Perbedaan hakiki antara
keduanya terletak pada tujuan akhirnya.
Pengajaran
sastra pada dasarnya mengemban misi efektif, yaitu memperkaya pengalaman siswa
dan menjadikannya lebih tanggap terhadap peristiwa – peristiwa di
sekelilingnya. Tujuan akhirnya adalah menanam, menumbuhkan dan mengembangkan
kepekaan terhadap masalah – masalah manusiawi, pengenalan dan rasa hormatnya
terhadap tata nilai baik dalam konteks individual, maupun sosial.
Dalam
pembelajaran yang paling tidak disukai adalah pelajaran Bahsa Indonesia karena,
menmbosankan, dan ditakuti padahal mata pelajaran ini merupakan salah satu mata
pelajaran yang menentukan siswa naik kelas atau tidaknya, penyebabnya macam –
macam: materi pelajaran yanng sarat dengan kaidah – kaidah tata bahasa yang
harus dihafalkan atau menurut Yus Badudu
terlalu gramatika-sentris, cara mengajar yang kurang bervariasi dan terlalu
didominasi guru, lingkungan dan yang kurang mendukung.
F. Pendekatan
Humanistik Terhadap Pembelajaran
Psikologi
Pendidikan mempunyai dua stream utama; yang pertama memfokuskan pada peranan
pendidikan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa (Disebut
Direct Instruction), dan yang kedua memfokuskan pada keluaran afektif, yaitu
belajar tentang bagaimana belajar, dan meningkatkan kreativitas serta potensi
manusia (Gerakan Humanistic Education), yang dominan di Amerika mulai awal
tahun 1970-an. Gerakan pendidikan humanistik merupakan penerus gerakan
pendidikan progresifnya John Dewey tahun 1920-1930-an, yang merupakan gerakan
reaksi terhadap penggunaan drill & rote learning berlebihan dari sekolah
tradisional. Hal penting pada pendidikan humanistik adalah siswa harus
mempunyai substantial hand dalam mengarahkan diri mereka, memilih apa yang akan
dipelajari, sampai tahaf mana ia akan belajar, kapan dan bagaimana ia akan
belajar. Gagasan tersebut dimaksudkan agar siswa memiliki self directed,
self-motivated, dan bukan sebagai penerima pasif informasi. Pendidikan
humanistik menyentuh tujuan afektif sebanyak tujuan kognitif. Untuk mencapai
tujuan afektif misalnya, Glasser & Lefkowitz (dalam Slavin, 1991)
menyelenggarakan class meeting untuk mendiskusikan problem-problem
interpersonal, nilai-nilai seperti tenggang rasa, kerjasama, kejujuran, saling
menghormati, dsb. Pendidikan humanistik menolak kenaikan kelas, menolak memberi
nilai pada tes-tes standar, melainkan dengan evaluasi tertulis terhadap
pemecahan masalah nyata, atau melakukan kegiatan eksperimen. Prinsip lain
pendidikan humanistik adalah bahwa pendidikan harus mengajar siswa bagaimana
belajar, mengevaluasi belajar dan hasil belajar untuk kepentingan siswa
sendiri. Oleh karena itu pendidikan humanistik seringkali memakai aktivitas
opened-ended dimana siswa harus memperoleh informasi, membuat keputusan,
memecahkan problem, dan mencipta produk sendiri. Misalnya guru sejarah sebelum
mengajar sejarah Mesir kuno, ia minta siswanya mengunjungi musium lokal untuk
melihat benda-benda hasil karya orang Mesir, tanpa bimbingan atau informasi
apapun dari guru. Para siswa diminta menuliskan impresi mereka dalam jurnal,
dan membuat hipotesis tentang arti dan makna karya tersebut. Kemudian mereka
kembali ke kelas dan mempelajari sejarah Mesir selama dua minggu, belajar
sistem penomeran orang Mesir, belajar geografi Mesir, dan membandingkan Mesir
kuno dan Mesir modern. Pada akhir aktivitas siswa dibawa lagi ke musium untuk
membandingkan hipotesis-hipotesis mereka dengan apa yang ia ketahui sekarang
tentang Mesir. Tujuan yang dicapai ada dua: (1) pemahaman sejarah Mesir, (2)
memberi pengalaman pada siswa meneliti sesuatu untuk dirinya sendiri,
pengalaman menggunakan fikiran dan imaginasinya untuk belajar, memberi
pengalaman betapa kayanya dunia dengan informasi—yang hanya dapat dimengerti
apabila kita mengetahui bagaimana kita mendapatkan informasi tersebut, dan
memberikan pengalaman bahwa belajar itu menyenangkan. Program pengajaran yang
paling dekat dengan humanistic education pada awal tahun 1970-an adalah
open-school atau open classroom. Open school menggunakan learning stations
(lingkungan belajar) yang berisi proyek-proyek tugas/kerja, buku kerja dengan
unit-unit belajar yang terindividual. Peranan pendidik adalah melaksanakan
segala sesuatu untuk membantu individu membangun jati diri dan konsep dirinya.
Siswa dilibatkan dalam proses belajar dengan diberi pengalaman-pengalaman
sukses, diakui, diterima, dan dihargai. Di sini pendidik memperlakukan siswa
sebagai manusia dengan segala kebutuhannya. Pendekatan humanistik menguraikan
bahwa motivasi adalah daya internal yang menyebabkan manusia tumbuh,
berkembang, dan merealisasi potensi-potensinya. Tidak ada istilah siswa tidak
memiliki motivasi, karena setiap orang memiliki “prinsip berkembang” dari dalam
dirinya, yang memberi energi dan mengarahkan perilaku (Combs & Avila, dalam
Eggen & Kauchak, 1997). Menurut pandangan humanistik, motivasi siswa
bergantung pada bagaimana pandangan siswa mengenai dirinya sendiri sebagai
manusia dan bagimana ia melihat kontribusi sekolah bagi perkembangannya. Jika
sekolah atau kelas dan pelajaran bersifat personal dan penuh arti, maka siswa
termotivasi untuk belajar, jika tidak maka siswa tidak termotivasi. Pengajaran
yang baik adalah “suatu proses yang mengundang siswa untuk melihat dirinya
sebagai orang yang mampu, bernilai, dan mengarahkan diri sendiri, dan mendorong
mereka untuk berbuat sesuai dengan persepsi dirinya tersebut” (Purkey &
Novak, dalam Eggen & Kauchak, 1997). Kemampuan siswa untuk menjawab
pertanyaan seperti “Mengapa kita harus mempelajari bahan ini?” dan “membantu
siswa untuk melihat hubungan antara apa yang sedang mereka pelajari dengan
perkembangan personal mereka” merupakan faktor kritis bagi motivasi dan
belajar. Psikologi humanistik tidak hanya menekankan pada faktor lingkungan
(teori behavioral) saja, atau instink internal (teori psikoanalisis) saja,
tetapi menekankan secara imbang antara faktor fisik, intelektual, emosional,
dan interpersonal, serta interaksi antara semua faktor, yang mempengaruhi
belajar dan motivasi belajar. Psikologi humanistik memfokuskan pada persepsi,
respon terhadap kebutuhan internal individu, dan dorongan aktualisasi diri,
atau menjadi apapun yang ia inginkan (Maslow, dalam Eggen & Kauchak, 1997).
Iklim atau suasana kelas merupakan perkembangan dari hubungan antara guru dan
siswa secara kolektif. Kelas dengan pendekatan humanistik merupakan lingkungan
yang safe dimana siswa percaya bahwa mereka dapat belajar dan berharap
melakukannya dengan iklim yang seperti itu. Dua unsur proses belajar-mengajar
yang esensial bagi psikolog humanistik: (1) hubungan antara guru dan siswa,
serta (2) iklim atau suasana kelas (Hamachek, dalam Eggen & Kauchak, 1997).
Guru yang penuh perhatian (care) dan bersifat mendukung (supportive),
mempercayai setiap siswa sebagai seorang individu, dan mempertimbangkan perkembangan
personal dan keadaan emosional dalam semua perlakuan pembelajaran yang mereka
lakukan, merupakan sikap yang harus dimiliki guru dalam pendekatan humanistik.
Sumbangan psikologi humanistik misalnya: memberi pengalaman sukses kepada
siswa; mengakui, menghargai dan menerima siswa apa adanya, jangan
membodoh-bodohkan siswa, terbuka menerima pendapat dan pandangan siswa tanpa
menilai atau mencela, terbuka untuk komunikasi dengan siswa, dan tidak hanya
menghargai potensi akademik. Untuk aktivitas-aktivitas kreatif, guru jangan
banyak memberikan aturan, memberi keamanan psikologis, menceritakan pengalaman,
menulis cerita, menghargai usaha, imaginasi, fantasi dan inovasi siswa,
sediakan banyak buku bacaan, aktivitas brainstorming. Di sadur dr Psikologi
Pendidikan by R.E. Slavin
BAB III
PENUTUP
Melihat keadaan
pengajaran berbahsa Indonesia saat ini telah terurai, bawasanya sangatlah
penting ketika kita mengajarkan tata bahasa dan melafatkannya terhadap peserta
didik kita. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah memanfaatkan bahan
pelajaran yag ada sekarang yang disusun secara struktural dengan menjadikannya
pragmatik dengan pendekatan komunikatif. Langkah ini sebenarnya dianjurkan
dalam kurikulum 1984, sementara bahan pelajaran yang murni komunikatif atau pragmatik
belum ada. Dengan ini bekrja purna waktu ke kelompok ahli ini diharapkan dapat
menghasilkan kurikulum dengan segala kelengkapannya, seperti buku teks, buku
pegangan guru, buku kerja siswa, dan sebagainya.
G. Kesimpulan
Teori
belajar humanistik sendiri sangat di butuhkan dalam keseharian karena mengingat
akan minimnya tata bahsa yang kurang rasional terhadap EYD, maka dengan adanya
materi TEORI BELAJAR BERBAHSA ini para siswa serta masyarakat dapat mengunakan
bahasa yang tepat pada situasi dan kondisinya.
DAFTAR PUSTAKA
Henry Guntur Tarigan (Bandung : Angkasa, 1990),
Sapardi Djoko Damono (Surakarta :
Pustaka Sinar Harapan, 1992),
Muljanto Sumardi (Jakarta : Midas Surya
Grafindo, 1996)
Annonimus.
2008. Teori Humanistik.
(online)http://apadefinisinya.blogspot.com
/2008/05/teori-humanistik.html diakses Rabu, 12 Oktober 2011.
Baharuddin, dan Makin, Moh. 2007.
Pendidikan
Humanistik (Konsep, Teori dan Aplikasi dalam Dunia Pendidikan). Ar-Ruzz Media :Yogyakarta.
MAKALAH
TEORI BELAJAR
BAHASA
“Teori Humanistik Terhadap Pendidikan”
Disusun Oleh :
1.
Chandra
Kurniawan 20111110012
2.
Hafid
Muhdi 20111110031
Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan
Program Studi
Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas
Muhammadiya Surabaya