Rabu, 29 Mei 2013



Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat ALLAH SWT , karena berkat rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan tugas makalah belajar dan pembelajaran tentang “Teori Belajar Menurut Aliran Humanisme dan Landasan Filosofisnya” sesuai dengan waktu yang telah diberikan.
            Makalah ini kami buat untuk dalam rangka memenuhi salah satu nilai persyaratan mata kuliah  pengantar pendidikan. Dalam pembuatan makalah ini , banyak hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam pembuatan makalah ini tidak lain berkat bantuan dan dorongan dari orang tua , sehingga kendala - kendala yang dihadapi dapat teratasi. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
  1. Dr. Warsiman, M.Pd. selaku dosen pembimbing mata kuliah Teori Belajar Bahasa,yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada kami sehingga kami dapat termotivasi dan menyelesaikan makalah ini.
  2. Orang tua yang turut membantu, memberikan doa kepada kami, sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
  3. Kepada teman-teman dan semua pihak yang telah ikut menyumbangkan fikiran dan dorongan selama penyusunan.

Semoga materi dalam karya tulis ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami supaya tujuan yang diharapkan dapat tercapai.


Surabaya, 12 Mei 2013










BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan terdapat banyak teori tentang pembelajaran. Salah satu teori pendidikan yang diterapkan adalah humanisme. Namun tentu saja masih menimbulkan pertanyaan tentang “Apakah yang dimaksud dengan teori  humanisme? “ dan berbagai pertanyaan lainpun akan bermunculan mengenai teori ini.
 Humanisme tidak memandang bangsa, agama, daerah, suku, warna kulit dan sejenisnya. Ia memperlakukan dan berusaha membantu siapa pun itu manusianya. Tidak memandang ia baik atau jahat, kawan atau musuh. Humanisme dipandang merupakan pendidikan dan pembelajaran di sekolah selama ini dinilai kurang demokratis. Kurangnya ruang bagi peserta didik untuk berimajinasi dan berkreasi menunjukkan eksistensinya dengan perspektif mereka sendiri menunjukkan hal itu. Padahal, kreativitas dan kemampuan berpikir kritis merupakan kecakapan yang menjadi modal anak agar mampu menghadapi tantangan dan lebih kompetitif .
Pendidikan sering kali kita harapkan sebagai “pabrik intelektual” yang dituntut agar mampu menciptakan pelaku-pelaku pembangunan yang tangguh dan handal di masa mendatang. Akibatnya, pendidikan tidak lagi diarahkan kepada hal-hal penanaman potensi kemanusiaan lainnya. Terutama yang bermuara pada sisi emosial peserta didik. Padahal, inti dari sebuah pendidikan ialah agar menjadikan manusia-manusia yang cerdas, kreatif dan humanis. Untuk itu, harus dicarikan sebuah konsep pendidikan yang berangkat dan beroerientasi pada potensi dasar manusia secara lebih sistematik dan realistik.
Menciptakan konsep pendidikan yang disebut dehumanisasi di negara kita tidaklah mudah membalikkan telapak tangan. Selain pendidikan kita yang tidak pernah jelas dan terarah sistem dan metodenya, apalagi jika kita melihat out put pendidikan itu sendiri yang faktanya sangat mengkhawatirkan. Belum lagi jika meneropong lebih jauh atas kasus-kasus tindak kriminal yang dilakukan oleh peserta didik. Tawuran antar pelajar, terjebak dalam lingkaran narkoba, miras dan berbagai tindakan amoral lainnya menjadi hal yang lumrah terjadi dalam keseharian kita..
Banyaknya persoalan yang menjadi beban pengelolaan pendidikan dan pengajaran di neggara kita. Mulai dari beban ajar yang terlalu banyak dan padat, sampai pada profesionalitas guru yang masih belum memadai dan penghargaan finansial terhadap para pendidik yang masih sangat rendah. Dalam bahasan ini masalah yang terkait erat adalah standar keberhasilan belajar yang masih menekankan bidang intelektual dan sekaligus sentralisasi standar mutu contohnya UNAS: Ujian Nasional, yang mengakibatkan masyarakat terjerumus pada keyakinan bahwa hasil UNAS adalah satu-satunya ukuran keberhasilan peserta didik dan juga sekolah sebagai lembaga pendidikan.
Pendidikan dan pembelajaran hendaknya diperbaiki sehingga memberi keseimbangan pada aspek individualitas ke aspek sosialitas atau kehidupan kebersamaan sebagai masyarakat manusia. Pendidikan dan pembelajaran hendaknya juga dikembalikan kepada aspek-aspek kemanusiaan yang perlu ditumbuhkembangkan pada diri peserta didik. Landasan filosofi pendidikan yang bertujuan mengembangkan dan mengharai aspek manusia adalah landasan dan teori belajar humanistime.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
  1. Apakah yang dimaksud dengan teori belajar humanisme?
  2. Bagaimanakah pemahaman belajar menurut teori belajar humanisme?
  3. Bagaimana implikasi teori belajar humanisme dalam proses belajar mengajar?
  4. Bagaimanakah Pemahaman orang lain terhadap humanisme?

C.     Tujuan Penulisan
Ø  Untuk mengetahui pengertian teori belajar humanisme terhadap pendidikan.
Ø  Untuk mengetahui pandangan teori belajar humanisme terhadap pembelajaran.
Ø  Untuk mengetahui implikasi teori belajar humanisme dalam proses belajar mengajar.

















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Belajar Humanisme
Dalam teori belajar humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara  pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan  kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai.
Menurut kami, Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya. Manusia bertanggung jawab terhadap pilihan hidup mereka sendiri, sehingga mampu berbuat segala hal positif untuk membangun dirinya, hal ini karena pada dasarnya manusia mempunyai potensi untuk menjadi lebih baik asalkan mau mengaktulisasikan diri.
Dalam  teori humanistime, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar berhasil jika si pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.Teori ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidikan ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu mewujudkan potensi yang ada pada dirinya.
Teori Humanisme dilihat dari adanya dua bagian pada proses belajar, yaitu :
1. Proses pemerolehan informasi
2. Personalisasi informasi ini pada individu
Tokoh penting dalam teori belajar humanistime secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl Rogers. Salah satu tokoh penting dari Teori Humanistik ini ialah “ Arthur W. Combs “ ( 1912-1999 ).
Arthur bersama dengan Donald Snygg ( 1904-1967 ) mencurahkan perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti ) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai oleh muridnya. Misal, anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan berarti anak itu bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan mungkin mereka tidak ada alasan penting mereka agar harus mempelajari. Perilaku ini tidak lain karena dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.
Dari uraian tersebut menurut kami, seorang guru harus bisa memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha mengubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu, dengan kata lain individulah yang memberikan arti kepada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya. Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran ( besar dan kecil) yang bertitik pusat satu. Hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran huanisme adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu;
  1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak penting artinya.
  2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasian bahan dan ide baru sebagai bahan yang bermakna bagi siswa. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
  3. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Dari bukunya Freedom To Learn, Rogers menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah;
    1. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
    2. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
    3. Belajar yang menyangkut perubahan didalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolakanya.
    4. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar semain kecil.
    5. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda maka terjadilah proses belajar. Belajar bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
    6. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan bertanggungjawab dalam proses belajar itu.
    7. Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek merupaan cara yang dapat memberi hasil yang mendalam dan lestari.
    8. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreatifitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupaan cara kedua yang penting.
    9. Belajar yang paling berguna secara sosial dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuan kedalam diri sendiri setelah mengenai proses perubahan itu.
Abraham Maslow, Mazhab ketiga dalam perkembangan psikologi ini, lahir sebagai reaksi atas teori-teori Behaviorisme (kental dengan sifat behavioristik, asosianistik dan eksperimental) dan Psikoanalisis (depth psychology dengan sifat klinis-pesimistik). Suatu telaah terhadap sisi-sisi yang lebih bermanfaat, bermakna dan dapat diterapkan bagi kemanusiaan, yang kemudian menjadi titik tolak bagi pengembangannya. Menurut Teori Maslow, pentingnya kesadaran akan perbedaan individu, dengan memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan. Menggali dan menemukan sisi-sisi kemanusiaan, pada taraf tertentu akan sampai pada penemuan diri. Proses belajar yang ada pada diri manusia adalah proses untuk sampai pada aktualisasi diri (learning how to be). Belajar adalah mengerti dan memahami siapa diri kita, bagaimana menjadi diri sendiri, apa potensi yang kita miliki, gaya apa yang anda miliki, apa langkah-langkah yang anda ambil, apa yang dirasakan, nilai-nilai apa yang kita miliki dan yakini, kearah mana perkembangan kita akan menuju. Belajar di satu sisi adalah memahami bagaimana anda berbeda dengan yang lain (individual differences), dan di sisi lain adalah memahami bagaimana anda menjadi manusia sama seperti manusia yang lain (persamaan dalam specieshood or humanness).
Berikut adalah kebutuhan manusia menurut teori Maslow (Piramida Maslow)
Menurut Habermas, belajar baru akan terjadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya. Lingkungan belajar yang dimaksud adalah lingkungan alam maupun lingkungan sosial, sebab antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Menurutnya ada 3 tipe belajar :
1.     Belajar Teknis (technical learning) à bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan alamnya secara benar. Pengetahuan dan keterampilan apa yang dibutuhkan dan perlu dipelajari agar mereka dapat menguasai dan mengelola lingkungan sekitarnya dengan baik.
2.     Belajar Praktis (practical learning) à bagaimana seseorang dapat berinterkasi dengan lingkungan sosialnya, yaitu dengan orang-orang disekelilingnya dengan baik.  Kegiatan belajar lebih mengutamakan terjadinya interaksi yang harmonis antara sesama manusia. Pemahaman dan keterampilan seseorang dalam mengelola lingkungan alamnya tidak dapat dipisahkan dengan kepentingan manusia pada umumnya. Interaksi yang benar antara individu dengan lingkungan alamnya  hanya akan tampak dari kaitan atau relevansinya dengan kepentingan manusia.
3.     Belajar Emansipatoris (emancipatory learning) à menekankan upaya agar seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran yang tinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi budaya dalam lingkungan sosialnya. Dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan serta sikap yang benar untuk mendukung terjadinya transformasi kultural tersebut. Pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi kultural inilah yang oleh Habermas dianggap sebagai tahap belajar yang paling tinggi, sebab transformasi kultural adalah tujuan pendidikan yang paling tinggi.

B.   Belajar Menurut Teori Humanisme

Teori belajar humanisme ini memandang bahwa perilaku manusia ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh factor internal dirinya dan bukan oleh kondisi lingkungan ataupun pengetahuan. Menurut teori belajar humanisme, aktualisasi diri merupakan puncak perkembangan individu. Ia mampu mengembangkan potensinya dan merasa dirinya utuh, bermakna dan berfungsi, kebermaknaan perwujudan dirinya itu bahkan bukan saja dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh lingkungan sekitarnya. Teori belajar humanisme ini yakin bahwa motivasi belajar harus datang dari dalam individu. Bahkan aliran ini mengabaikan factor intelektual dan emosional. Menurutnya, kedua factor tersebut tidak terlibat di dalam proses belajar.
Menurut teori ini, proses belajar yang bermakna adalah belajar yang melibatkan pengalaman langsung, berpikir dan merasakan, atas kehendak sendiri dan melibatkan seluruh pribadi peserta didik. Belajar yang bermakna tidak lain adalah belajar yang dapat memenuhi kebutuhan nyata individu. menurut teori humanisme, salah satu karasteristik yang harus ada pada guru / pendidik adalah memiliki kemampuan memotivasi belajar peserta didiknya. Selain itu guru memiliki sikap empati, terbuka, keaslian, kekonkritan,dan kehangatan. Sikap empati merujuk kepada sikap guru yang mampu memposisiskan dirinya pada kerangka berpikir peserta didik sehingga guru dapat merasakan apa yang peserta didik rasakan dan alami. Keterbukaan merujuk pada kemampuan guru untuk membuka diri, sikap dikritik, diberi masukan, siap dinilai, dan diberi ujian. Keaslian merujuk kepada pemampilan apa adanya dan tidak dibuat-buat. Kekonkretan merujuk pada kejelasan dalam menyatakan sesuatu.memberi tanggung jawab sesuai dengan kemampuan peserta didik dan realistis. Kehangatan merujuk pada jalanan komunikasi yang secara psikologis terasa nyaman dan aman bagi peserta didik disertai ketulusan dalam memberikan pelayanan pendidikan.
Prof. Dr. Armai Arief, MA.(Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta) menyatakan bahwa hampir tidak kita sadari bersama saat ini, trend pendidikan yang berkembang pada beberapa dekade terakhir ini adalah belajar untuk belajar. Bukan lagi belajar untuk dapat bertahan hidup dalam kondisi yang jauh makin komplek ke depan. Tak heran proses pembelajaran yang ada di sekolah dapat dinilai kurang demokratis-humanistik. Kurang adanya ruang bagi peserta didik untuk berimajinasi dan berkreasi guna menunjukkan eksistensinya sendiri masing-masing. Padahal, kreativitas dan kemampuan berpikir kritis merupakan kecakapan yang menjadi modal awal anak agar mampu menghadapi tantangan masa depan yang jauh lebih kompetitif.
Suatu model pendidikan terbuka mencakup konsep pengajar guru yang fasilitas dan kemampuan para guru untuk menciptakan kondisi yang mendukung yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif. Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah;
1. Merespon perasaan siswa.
2. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang.
3. Berdialog dan berdisusi dengan siswa.
4. Menghargai siswa.
5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan.
6. Menyesuaian isi kerangka berfiir siswa (penjelasan untuk memantapkan kebutuhan segera dari siswa).

C.  Implikasi Belajar Humanistik

Guru sebagai fasilitator Psikologi, paham humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator, berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas si fasilitator. Ini merupakan ikthisar yang sangat singkat dari beberapa petunjuk.
  1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas.
  2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan didalam kelas, dan juga tujuan-tujuan kelompok ang bersifat umum.
  3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong yang tersembunyi didalam belajar ang bermakna tadi.
  4. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar ang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
  5. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
  6. Didalam menaggapi ungkapan-ungkapan dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menaggapi dengan cara ang sesuai, baik bagi individu maupun kelompok.
  7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-angsur dapat berperan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pandangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
  8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaan dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa.
  9. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar.
  10. Didalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk mengenali dan menerima keterbatasanna sendiri
Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri (self-directed learning). Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri. Galileo menegaskan bahwa “sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun, kita hanya dapat membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya”. Setiap pribadi manusia memiliki ldquo, (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin.
Mendidik yang efektif pada dasarnya merupakan kemampun seseorang yang menghadirkan diri sedemikian sehingga pendidik memiliki relasi bermakna pendidikan dengan para peserta didik sehingga mereka mampu menumbuhkembangkan dirinya menjadi pribadi dewasa dan matang. Pendidikan yang efektif adalah yang berpusat pada siswa atau pendidikan bagi siswa. Dasar pendidikannya adalah apa yang menjadi & ldquo; dunia & idquo;, minat, dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik. Pendidik membantu peserta didik untuk menemukan, mengembangkan dan mencoba mempraktikkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki (the learners-centered teaching). Ciri utama pendidikan yang berpusat pada siswa adalah bahwa pendidik menghormati, menghargai dan menerima siswa sebagaimana adanya. Komunikasi dan relasi yang efektif sangat diperlukan dalam model pendidikan yang berpusat pada siswa, sebab hanya dalam suasana relasi dan komunikasi yang efektif, peserta didik akan dapat mengeksplorasi dirinya, mengembangkan dirinya dan kemudian mem - ldquo; fungsi & idquo; -kan dirinya di dalam masyarakat secara optimal.
Tujuan sejati dari pendidikan adalah pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh sehingga mereka menjadi pribadi dewasa yang matang dan mapan, mampu menghadapi berbagai masalah dan konflik dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan ini dapat tercapai maka diperlukan sistem pembelajaran dan pendidikan yang humanis serta mengembangkan cara berpikir aktif-positif dan keterampilan yang memadai (income generating skills). Pendidikan dan pembelajaran yang bersifat aktif-positif dan berdasarkan pada minat dan kebutuhan siswa sangat penting untuk memperoleh kemajuan baik dalam bidang intelektual, emosi/perasaan (EQ), afeksi maupun keterampilan yang berguna untuk hidup praktis.
Tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah memanusiakan manusia muda (N. Driyarkara). Pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih bermanusiawi (semakin & ldquo; penuh & idquo; sebagai manusia), berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, namun tetap humanis.
Ki Hajar Dewantara, pendidik asli Indonesia, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologiknya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi. Dari titik pandang sosio-anthropologis, kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Persoalannya budaya dalam masyarakat itu berbeda-beda.
Saat ini model pendidikan yang dibutuhkan adalah model pendidikan yang demokratis, partisipatif, dan humanis: adanya suasana saling menghargai, adanya kebebasan berpendapat/berbicara, kebebasan mengungkapkan gagasan, adanya keterlibatan peserta didik dalam berbagai aktivitas di sekolah, dan kemampuan hidup bersama dengan teman yang mempunyai pandangan berbeda. Oleh karena itu, paradigma pembelajaran dan pendidikan seyogianya merupakan sebuah paradigma pembelajaran yang sedari tingkat filosofis, strategi, pendekatan proses dan teknologi pembelajarannya menuju ke arah pembebasan anak didik dengan segala eksistensinya. Dengan demikian, baru anak didik bisa bebas mewujudkan keseluruhan potensi dirinya.
Sistem pendidikan hendaknya berpusat pada peserta didik, artinya kurikulum, administrasi, kegiatan ekstrakurikuler maupun kokurikulernya, sistem pengelolaannya harus dirumuskan dan dilaksanakan demi kepentingan peserta didik, bukan demi kepentingan guru, sekolah atau lembaga lain. Pendidikan yang hanya memusatkan pada kepentingan kebutuhan kerja secara sempit harus dikembalikan kepada kepentingan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik secara utuh. Seperti misalnya kemampuan bernalar, berpikir aktif-positif, kreatif, menemukan alternatif dan prosesnya menjadi pribadi yang utuh (process of becoming). Peserta didik hendaknya benar-benar dikembalikan sebagai subyek (dan juga obyek) pendidikan dan bukannya obyek semata-mata.
Pembudayaan nilai kreativitas, otonomi/kemandirian, dan relevansi pendidikan merupakan kunci rekulturasi. UNESCO merekomendasikan pembaharuan pendidikan dan pembelajaran yang amat menunjang proses ini, pada lima konsep pokok paradigma pembelajaran dan pendidikan, yaitu:
  1. Learning to know: guru hendaknya mampu menjadi fasilitator bagi peserta didiknya. Information supplier (ceramah, putar pita kaset) sudah tidak jamannya lagi. Peserta didik dimotivasi sehingga timbul kebutuhan dari dirinya sendiri untuk memperoleh informasi, keterampilan hidup (income generating skills), dan sikap tertentu yang ingin dikuasainya.
  2. Learning to do: peserta didik dilatih untuk secara sadar mampu melakukan suatu perbuatan atau tindakan produktif dalam ranah pengetahuan, perasaan dan penghendakan. Peserta didik dilatih untuk aktif-positif daripada aktif-negatif. Pengajaran yang hanya menekankan aspek intelektual saja sudah usang.
  3. Learning to live together: ini adalah tanggapan nyata terhadap arus deras spesialisme dan individualisme. Nilai baru seperti kompetisi, efisiensi, keefektifan, kecepatan, telah diterapkan secara keliru dalam dunia pendidikan. Sebagai misal, sebenarnya kompetisi hanya akan bersifat adil kalau berada dalam paying kooperatif dan didasarkan pada kesamaan kemampuan, kesempatan, lingkup, sarana, tanpa itu semua hanyalah merupakan kompetisi yang akan mengakibatkan yang “kalah” akan selalu “kalah”. Sekolah sebagai suatu masyarakat mini seharusnya mengajarkan “cooperatif learning”, kerjasama dan bersama-sama, dan bukannya pertandingan intelektualistik semata-mata, yang hanya akan menjadikan manusia pandai tetapi termakan oleh kepandaiannya sendiri dan juga membodohi orang lain. Sekolah menjadi suatu paguyuban penuh kekeluargaan dan mengembangkan daya cipta, rasa dan karsa, atau aspek-aspek kemanusiaan manusia.
  4. Learning to be: dihayati dan dikembangkan untuk memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Setiap peserta didik memiliki harga diri berdasarkan diri yang senyatanya. Peserta didik dikondisikan dalam suasana yang dipercaya, dihargai, dan dihormati sebagai pribadi yang unik, merdeka, berkemampuan, adanya kebebasan untuk mengekspresikan diri, sehingga terus menerus dapat menemukan jati dirinya. Subyek didik diberikan suasana dan sistem yang kondusif untuk menjadi dirinya sendiri.
  5. Learning throughout life yaitu bahwa pembelajaran tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Pembelajaran dan pendidikan berlangsung seumur hidup. Pelaku pendidikan formal hendaknya berorientasi pada proses dan bukan pada hasil atau produk semata.
D.  Humanisme Menurut pandangan Psikologi

Humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul tahun 1950an sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis. Aliran ini secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis. Permasalah ini dirangkum dalam lima postulat Psikologi Humanistik dari James Bugental (1964), sebagai berikut:
1.                  Manusia tidak bisa direduksi menjadi komponen-komponen.
2.                  Manusia memiliki konteks yang unik di dalam dirinya.
3.                  Kesadaran manusia menyertakan kesadaran akan diri dalam konteks orang lain.
4.                  Manusia mempunyai pilihan-pilihan dan tanggung jawab.
5.                  Manusia bersifat intensional, mereka mencari makna, nilai, dan memiliki kreativitas.
Pendekatan humanistik ini mempunyai akar pada pemikiran eksistensialisme dengan tokoh-tokohnya seperti Kierkegaard, Nietzsche, Heidegger, dan Sartre.
.Abstrak
Psikologi humanistik atau disebut juga dengan nama psikologi kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkah laku manusia, yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia. Bagi sejumlah ahli psikologi humanistik ia adalah alternatif, sedangkan bagi sejumlah ahli psikologi humanistik yang lainnya merupakan pelengkap bagi
penekanan tradisional behaviorisme dan psikoanalis. Psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic)
keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial,mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistic. Aliran Psikologi Humanistik selalu mendorong peningkatan kualitas diri manusia melalui penghargaannya terhadap potensi-potensi positif yang ada pada setiap insan. Seiring dengan perubahan dan tuntutan zaman, proses pendidikan pun senantiasa berubah.

E.   Pendekatan Bahasa Dalam Pengajaran

     Pengajaran bahasa sebagai bahasa asing mengalami perkembangan dari masa ke masa, terutama di negara yang kondisi sosial ekonominya sudah mantap seperti  di negara – negara Eropa dan di Amerika Serikat dimana penelitian telah merupakan tradisi kehidupan ilmiah dan telah menghasilkan pemikiran – pemikiran di bidang pengajaran Bahasa. Kemajuan yang begitu pesat di bidang komunikasi menyebabkan perkembangan bahasa yang terjadi di negara – negara tersebut berpengaruh juga dibelahan bumi lainnya, yaitu negara – negara berkembang seperti indonesia, biarpun dalam kenyataannya kita selalu ketinggalan.
Pengajaran sastra tidak dapat dipisahkan dari pengajaran bahasa. Namu, pengajaran sastra tidaklah dapat disamakan dengan pengajaran bahasa. Perbedaan hakiki antara keduanya terletak pada tujuan akhirnya.
Pengajaran sastra pada dasarnya mengemban misi efektif, yaitu memperkaya pengalaman siswa dan menjadikannya lebih tanggap terhadap peristiwa – peristiwa di sekelilingnya. Tujuan akhirnya adalah menanam, menumbuhkan dan mengembangkan kepekaan terhadap masalah – masalah manusiawi, pengenalan dan rasa hormatnya terhadap tata nilai baik dalam konteks individual, maupun sosial.
Dalam pembelajaran yang paling tidak disukai adalah pelajaran Bahsa Indonesia karena, menmbosankan, dan ditakuti padahal mata pelajaran ini merupakan salah satu mata pelajaran yang menentukan siswa naik kelas atau tidaknya, penyebabnya macam – macam: materi pelajaran yanng sarat dengan kaidah – kaidah tata bahasa yang harus dihafalkan atau menurut  Yus Badudu terlalu gramatika-sentris, cara mengajar yang kurang bervariasi dan terlalu didominasi guru, lingkungan dan yang kurang mendukung.

F.   Pendekatan Humanistik Terhadap Pembelajaran
Psikologi Pendidikan mempunyai dua stream utama; yang pertama memfokuskan pada peranan pendidikan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa (Disebut Direct Instruction), dan yang kedua memfokuskan pada keluaran afektif, yaitu belajar tentang bagaimana belajar, dan meningkatkan kreativitas serta potensi manusia (Gerakan Humanistic Education), yang dominan di Amerika mulai awal tahun 1970-an. Gerakan pendidikan humanistik merupakan penerus gerakan pendidikan progresifnya John Dewey tahun 1920-1930-an, yang merupakan gerakan reaksi terhadap penggunaan drill & rote learning berlebihan dari sekolah tradisional. Hal penting pada pendidikan humanistik adalah siswa harus mempunyai substantial hand dalam mengarahkan diri mereka, memilih apa yang akan dipelajari, sampai tahaf mana ia akan belajar, kapan dan bagaimana ia akan belajar. Gagasan tersebut dimaksudkan agar siswa memiliki self directed, self-motivated, dan bukan sebagai penerima pasif informasi. Pendidikan humanistik menyentuh tujuan afektif sebanyak tujuan kognitif. Untuk mencapai tujuan afektif misalnya, Glasser & Lefkowitz (dalam Slavin, 1991) menyelenggarakan class meeting untuk mendiskusikan problem-problem interpersonal, nilai-nilai seperti tenggang rasa, kerjasama, kejujuran, saling menghormati, dsb. Pendidikan humanistik menolak kenaikan kelas, menolak memberi nilai pada tes-tes standar, melainkan dengan evaluasi tertulis terhadap pemecahan masalah nyata, atau melakukan kegiatan eksperimen. Prinsip lain pendidikan humanistik adalah bahwa pendidikan harus mengajar siswa bagaimana belajar, mengevaluasi belajar dan hasil belajar untuk kepentingan siswa sendiri. Oleh karena itu pendidikan humanistik seringkali memakai aktivitas opened-ended dimana siswa harus memperoleh informasi, membuat keputusan, memecahkan problem, dan mencipta produk sendiri. Misalnya guru sejarah sebelum mengajar sejarah Mesir kuno, ia minta siswanya mengunjungi musium lokal untuk melihat benda-benda hasil karya orang Mesir, tanpa bimbingan atau informasi apapun dari guru. Para siswa diminta menuliskan impresi mereka dalam jurnal, dan membuat hipotesis tentang arti dan makna karya tersebut. Kemudian mereka kembali ke kelas dan mempelajari sejarah Mesir selama dua minggu, belajar sistem penomeran orang Mesir, belajar geografi Mesir, dan membandingkan Mesir kuno dan Mesir modern. Pada akhir aktivitas siswa dibawa lagi ke musium untuk membandingkan hipotesis-hipotesis mereka dengan apa yang ia ketahui sekarang tentang Mesir. Tujuan yang dicapai ada dua: (1) pemahaman sejarah Mesir, (2) memberi pengalaman pada siswa meneliti sesuatu untuk dirinya sendiri, pengalaman menggunakan fikiran dan imaginasinya untuk belajar, memberi pengalaman betapa kayanya dunia dengan informasi—yang hanya dapat dimengerti apabila kita mengetahui bagaimana kita mendapatkan informasi tersebut, dan memberikan pengalaman bahwa belajar itu menyenangkan. Program pengajaran yang paling dekat dengan humanistic education pada awal tahun 1970-an adalah open-school atau open classroom. Open school menggunakan learning stations (lingkungan belajar) yang berisi proyek-proyek tugas/kerja, buku kerja dengan unit-unit belajar yang terindividual. Peranan pendidik adalah melaksanakan segala sesuatu untuk membantu individu membangun jati diri dan konsep dirinya. Siswa dilibatkan dalam proses belajar dengan diberi pengalaman-pengalaman sukses, diakui, diterima, dan dihargai. Di sini pendidik memperlakukan siswa sebagai manusia dengan segala kebutuhannya. Pendekatan humanistik menguraikan bahwa motivasi adalah daya internal yang menyebabkan manusia tumbuh, berkembang, dan merealisasi potensi-potensinya. Tidak ada istilah siswa tidak memiliki motivasi, karena setiap orang memiliki “prinsip berkembang” dari dalam dirinya, yang memberi energi dan mengarahkan perilaku (Combs & Avila, dalam Eggen & Kauchak, 1997). Menurut pandangan humanistik, motivasi siswa bergantung pada bagaimana pandangan siswa mengenai dirinya sendiri sebagai manusia dan bagimana ia melihat kontribusi sekolah bagi perkembangannya. Jika sekolah atau kelas dan pelajaran bersifat personal dan penuh arti, maka siswa termotivasi untuk belajar, jika tidak maka siswa tidak termotivasi. Pengajaran yang baik adalah “suatu proses yang mengundang siswa untuk melihat dirinya sebagai orang yang mampu, bernilai, dan mengarahkan diri sendiri, dan mendorong mereka untuk berbuat sesuai dengan persepsi dirinya tersebut” (Purkey & Novak, dalam Eggen & Kauchak, 1997). Kemampuan siswa untuk menjawab pertanyaan seperti “Mengapa kita harus mempelajari bahan ini?” dan “membantu siswa untuk melihat hubungan antara apa yang sedang mereka pelajari dengan perkembangan personal mereka” merupakan faktor kritis bagi motivasi dan belajar. Psikologi humanistik tidak hanya menekankan pada faktor lingkungan (teori behavioral) saja, atau instink internal (teori psikoanalisis) saja, tetapi menekankan secara imbang antara faktor fisik, intelektual, emosional, dan interpersonal, serta interaksi antara semua faktor, yang mempengaruhi belajar dan motivasi belajar. Psikologi humanistik memfokuskan pada persepsi, respon terhadap kebutuhan internal individu, dan dorongan aktualisasi diri, atau menjadi apapun yang ia inginkan (Maslow, dalam Eggen & Kauchak, 1997). Iklim atau suasana kelas merupakan perkembangan dari hubungan antara guru dan siswa secara kolektif. Kelas dengan pendekatan humanistik merupakan lingkungan yang safe dimana siswa percaya bahwa mereka dapat belajar dan berharap melakukannya dengan iklim yang seperti itu. Dua unsur proses belajar-mengajar yang esensial bagi psikolog humanistik: (1) hubungan antara guru dan siswa, serta (2) iklim atau suasana kelas (Hamachek, dalam Eggen & Kauchak, 1997). Guru yang penuh perhatian (care) dan bersifat mendukung (supportive), mempercayai setiap siswa sebagai seorang individu, dan mempertimbangkan perkembangan personal dan keadaan emosional dalam semua perlakuan pembelajaran yang mereka lakukan, merupakan sikap yang harus dimiliki guru dalam pendekatan humanistik. Sumbangan psikologi humanistik misalnya: memberi pengalaman sukses kepada siswa; mengakui, menghargai dan menerima siswa apa adanya, jangan membodoh-bodohkan siswa, terbuka menerima pendapat dan pandangan siswa tanpa menilai atau mencela, terbuka untuk komunikasi dengan siswa, dan tidak hanya menghargai potensi akademik. Untuk aktivitas-aktivitas kreatif, guru jangan banyak memberikan aturan, memberi keamanan psikologis, menceritakan pengalaman, menulis cerita, menghargai usaha, imaginasi, fantasi dan inovasi siswa, sediakan banyak buku bacaan, aktivitas brainstorming. Di sadur dr Psikologi Pendidikan by R.E. Slavin

BAB III
PENUTUP

Melihat keadaan pengajaran berbahsa Indonesia saat ini telah terurai, bawasanya sangatlah penting ketika kita mengajarkan tata bahasa dan melafatkannya terhadap peserta didik kita. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah memanfaatkan bahan pelajaran yag ada sekarang yang disusun secara struktural dengan menjadikannya pragmatik dengan pendekatan komunikatif. Langkah ini sebenarnya dianjurkan dalam kurikulum 1984, sementara bahan pelajaran yang murni komunikatif atau pragmatik belum ada. Dengan ini bekrja purna waktu ke kelompok ahli ini diharapkan dapat menghasilkan kurikulum dengan segala kelengkapannya, seperti buku teks, buku pegangan guru, buku kerja siswa, dan sebagainya.

G. Kesimpulan
Teori belajar humanistik sendiri sangat di butuhkan dalam keseharian karena mengingat akan minimnya tata bahsa yang kurang rasional terhadap EYD, maka dengan adanya materi TEORI BELAJAR BERBAHSA ini para siswa serta masyarakat dapat mengunakan bahasa yang tepat pada situasi dan kondisinya.














DAFTAR PUSTAKA

Henry Guntur Tarigan (Bandung : Angkasa, 1990),
Sapardi Djoko Damono (Surakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1992),
Muljanto Sumardi (Jakarta : Midas Surya Grafindo, 1996)
Annonimus. 2008. Teori Humanistik. (online)http://apadefinisinya.blogspot.com /2008/05/teori-humanistik.html diakses Rabu, 12 Oktober 2011.
Baharuddin, dan Makin, Moh. 2007. Pendidikan Humanistik (Konsep, Teori dan Aplikasi dalam Dunia Pendidikan). Ar-Ruzz Media :Yogyakarta.



























MAKALAH
TEORI BELAJAR BAHASA
“Teori Humanistik Terhadap Pendidikan”














Dosen Pengampuh: Dr. Warsiman, M.Pd

Disusun Oleh :
1.      Chandra Kurniawan  20111110012
2.      Hafid Muhdi               20111110031







Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiya Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar